Penghuni Gerbang Neraka Dunia! Inilah suku Afar Yang Tinggal di Tanah Kematian
Di benua Afrika bagian timur tepatnya di perbatasan antara Ethiopia, Djibouti dan Eritrea, ada sebuah wilayah yang cukup luas dan cukup berbahaya namun dihuni oleh manusia. Inilah suku Afar, suku yang dikenal sebagai penghuni gerbang neraka dunia!
Suku Afar adalah etnis yang hidup di wilayah Depresi Danakil, Afrika Timur. Tempat ini dijuluki sebagai tanah kematian atau banyak juga yang menyebutnya gerbang neraka dunia. Hal itu dikarenakan suhunya yang sangatlah panas, bahkan menyentuh angka hingga 50°C. Tanah tandus, dataran garam, aktivitas vulkanik, hingga danau lava dan danau asam juga ada disana. Bisa kalian bayangkan sendiri bagaimana kondisi di wilayah Danakil itu. Akan tetapi, suku Afar bisa bertahan hidup disana sejak dulu sampai sekarang.
Suku Afar memiliki kemampuan adaptasi yang sangat luar biasa, mungkin bisa dikatakan sedikit berada diatas kemampuan rata-rata manusia biasa. Kebanyakan dari mereka adalah pengembala nomaden yang berpindah-pindah di wilayah Afar. Dataran garam yang begitu panas menjadi salah satu tempat sumber daya alam bagi mereka selain mengandalkan unta, domba dan kambing hasil gembala. Suku Afar merupakan penambang garam di danau tersebut. Bahkan kerap kali terlihat lalu lalang di dataran panas ini dengan unta nya untuk memanen garam dan menjualnya ke pasar terdekat. Kalian bayangkan berjalan dibawah terik matahari dengan suhu begitu tinggi tanpa pakaian khusus. Tapi mereka bisa melakukan itu semua selama ber abad-abad. Bahkan saking kuatnya tubuh mereka, mereka bisa dengan santainya berjalan di atas danau asam. Padahal danau itu cukup panas dan juga berbahaya karena mengandung banyak sekali zat berbahaya di dalamnya.
Sebenarnya wilayah Danakil ini bukanlah sebuah wilayah untuk tempat tinggal manusia. Tempat ini cukup berbahaya karena banyaknya aktivitas geotermal yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Banyak yang menganggapnya hanya sekedar tempat penelitian dan juga tempat wisata. Namun siapa sangka ternyata kehidupan pun juga ada disana. Jika bukan suku Afar, mungkin mereka yang mencoba untuk tinggal disini tidak akan dapat bertahan lama. Suku ini bagaikan simbol ketangguhan manusia dalam bertahan hidup di kondisi yang tidak memungkinkan. Bukan hanya sekedar bertahan, mereka menganggap tempat bahaya itu sebagai rumah bagi mereka. Luar biasa. Dan ini telah dianggap sebagai tradisi dari budaya mereka yang telah dijaga selama berabad-abad.
Namun menurut informasi, eksploitasi sumberdaya dan moderenisasi di wilayah danakil mulai dilakukan. Dengan perubahan besar itu suku afar pun masih mempertahankan budaya mereka meskipun banyak hal dari luar yang terus datang kesana.
Bagaimana menurut kalian? Tuliskan pendapatmu di kolom komentar. Kalau ada salah dalam penyampaian kami, mari kita diskusikan bersama di kolom komentar, sekian dari kami dan terima kasih.
Suku Afar memiliki kemampuan adaptasi yang sangat luar biasa, mungkin bisa dikatakan sedikit berada diatas kemampuan rata-rata manusia biasa. Kebanyakan dari mereka adalah pengembala nomaden yang berpindah-pindah di wilayah Afar. Dataran garam yang begitu panas menjadi salah satu tempat sumber daya alam bagi mereka selain mengandalkan unta, domba dan kambing hasil gembala. Suku Afar merupakan penambang garam di danau tersebut. Bahkan kerap kali terlihat lalu lalang di dataran panas ini dengan unta nya untuk memanen garam dan menjualnya ke pasar terdekat. Kalian bayangkan berjalan dibawah terik matahari dengan suhu begitu tinggi tanpa pakaian khusus. Tapi mereka bisa melakukan itu semua selama ber abad-abad. Bahkan saking kuatnya tubuh mereka, mereka bisa dengan santainya berjalan di atas danau asam. Padahal danau itu cukup panas dan juga berbahaya karena mengandung banyak sekali zat berbahaya di dalamnya.
Sebenarnya wilayah Danakil ini bukanlah sebuah wilayah untuk tempat tinggal manusia. Tempat ini cukup berbahaya karena banyaknya aktivitas geotermal yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Banyak yang menganggapnya hanya sekedar tempat penelitian dan juga tempat wisata. Namun siapa sangka ternyata kehidupan pun juga ada disana. Jika bukan suku Afar, mungkin mereka yang mencoba untuk tinggal disini tidak akan dapat bertahan lama. Suku ini bagaikan simbol ketangguhan manusia dalam bertahan hidup di kondisi yang tidak memungkinkan. Bukan hanya sekedar bertahan, mereka menganggap tempat bahaya itu sebagai rumah bagi mereka. Luar biasa. Dan ini telah dianggap sebagai tradisi dari budaya mereka yang telah dijaga selama berabad-abad.
Namun menurut informasi, eksploitasi sumberdaya dan moderenisasi di wilayah danakil mulai dilakukan. Dengan perubahan besar itu suku afar pun masih mempertahankan budaya mereka meskipun banyak hal dari luar yang terus datang kesana.
Bagaimana menurut kalian? Tuliskan pendapatmu di kolom komentar. Kalau ada salah dalam penyampaian kami, mari kita diskusikan bersama di kolom komentar, sekian dari kami dan terima kasih.
